Peralatan yang dibutuhkan: komputer dan program Adobe Photoshop. Akan lebih baik jika menggunakan monitor dengan standar profesional (beresolusi cukup tinggi - Red.)
Cara mengetahuinya:
1. Perbedaan resolusi.
Biasanya foto yang difoto secara profesional memiliki resolusi 255 ppi,
sedangkan yang diambil dengan kamera digital biasa (non-pro) adalah 72
ppi. Bila dua foto (yang diambil dengan menggunakan alat yang berbeda
kualitasnya) digabung menjadi satu, kemudian di save ke 72 ppi (dengan
jpg format internet), lalu dikonversikan kembali ke 255 ppi dengan
Photoshop dan di-zoom sebesar-besarnya, maka perbedaan pixelnya akan
terlihat.
2. Perbedaan warna dan skin tone.
Perbedaan warna wajah dengan tubuh tidak selamanya menandakan sebuah
foto itu hasil rekayasa. Bahkan sangat normal bila terdapat perbedaan
warna kulit wajah dengan tangan atau bagian tubuh lain. Ini dikarenakan
perbedaan kehalusan dan bulu pori-pori pada wajah dengan yang lainnya
hingga mempengaruhi pantulan cahaya.
Jadi perbedaan warna yang dimaksudkan disini adalah bukan cuma warna, melainkan tonase, termasuk titik terang dan titik gelap. Bila kita menemukan sebuah foto yang mencurigakan, coba atur ‘brightness’ monitor sampai maksimum dan ‘contrast’ sampai minimum. Kemudian lihat apakah terjadi perbedaan mencolok antara wajah dengan tubuh. Cara lain, buka dengan Photoshop dan gunakan filter HSB. Geser ’slider’ H dan S sampai kandas ke kanan. Biasanya akan langsung ketahuan perbedaannya jika dua gambar atau lebih dijadikan satu.
3. Grain dan noise.
Umumnya foto baik yang digital atau hasil scan, memiliki noise terutama
pada daerah shadow (gelap). Noise atau grain ini timbul karena bit info
tidak tertangkap kamera, sehingga software kamera mengkompensasi secara
digital, umumnya secara interpolasi. Kamera yang berbeda tentu
menghasilkan kompensasi yang berbeda. Untuk melihat dengan jelas,
perhatikan foto pada channel masing-masing (RGB atau CMY). Biasanya
yang kentara terjadi perbedaan jika foto merupakan suatu tempelan
adalah di channel G (hijau) dan B (biru).
4. Cari sambungan.
Bila sebuah foto dicangkok kedalam sebuah foto yang lain, tentu ada
daerah sambungan. Ini efektif untuk gambar ‘fake’ hasil kerjaan
orang-orang pemula. Biasanya foto yang di-fake dengan teknik tinggi
sangat sulit mencari sambungannya karena kecanggihan Photoshop yang
bisa menyamarkan sambungan sampai 255 step. Namun begitu, sering kali
seorang ahli akan membuat kelalaian, misalnya pada daerah rambut,
sambungan dagu, leher, dan sebagainya.
5. Perhatian: metadata yang merupakan embeded profile pada sebuah foto digital tidak pernah membuktikan kalau foto itu asli atau tidak. Kecuali kalau file foto itu berbentuk RAW (misalnya berekstension .nef untuk Nikon atau .dcr untuk Kodak )
Sumber : Kaskus
Visitors | : 472315 Org |
Hits | : 1473678 hits |
Month | : 6195 Users |
Today | : 484 Users |
Online | : 11 Users |
Stat. Web | : Klik |