Safaruddin, S.Kom
Teknisi Komputer, Programmer Web.
Yogyakarta, Indonesia.

I love the web
follow me on

Communicative Services, Prinsip Layanan Perpustakaan Ideal

Senin, 24 Mei 2010 03:02:30
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)

Perpustakaan. . Pendahuluan Perpustakaan merupakan refleksi peradaban yang telah dicapai suatu daerah. Perpustakaan berperan dalam memperkenalkan dan meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan kepada masyarakat, serta turut serta dalam menanamkan sikap untuk terus menerus belajar secara berkelanjutan sepanjang hayat. Dengan kata lain, perpustakaan berperan aktif dalam membantu mencerdaskan masyarakat sehingga dapat berpartisipasi dan produktif dalam menggapai terwujudnya masyarakat yang mandiri, dinamis, dan sejahtera. Perpustakaan juga merupakan pusat sumber informasi. Perpustakaan menyediakan dan mengolah informasi Saat ini, perpustakaan dan lembaga informasi lainnya sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang pelayanan informasi mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Bertambahnya jumlah informasi secara kuantitas menuntut adanya pengolahan, pengelolaan dan penyebarluasan informasi yang lebih berkualitas dan tentunya sesuai dengan kebutuhan informasi masyarakat. Bagaimana perpustakaan bertahan di tengah persaingan dunia informasi saat ini? Jawabannya adalah pemahaman yang utuh dari perpustakaan terhadap pemustakanya. Perpustakaan dituntut untuk mampu tidak hanya memasarkan segala sumber informasi dan layanan yang dimilikinya sehingga pengguna (masyarakat) sadar, mengetahui dan bahkan memahami bahwa perpustakaan selalu tersedia untuk memenuhi segala kebutuhan informasi mereka, tetapi lebih dari itu adalah bagaimana seluruh aspek layanan yang ada mampu menjawab kebutuhan pemustaka, bagaimana perpustakaan mengenal dengan baik pemustakanya sehingga mampu menyuguhkan layanan yang terbaik yang memang sesuai dengan kebutuhan informasi mereka. User oriented. Ya! Semua upaya yang dilakukan perpustakaan adalah untuk kepentingan pemustaka. Begitu pula ketika perkembangan teknologi informasi dan komunikasi terjadi seperti saat ini, maka perpustakaan memiliki konsekuensi untuk berusaha menyesuaikan diri terhadap perubahan tersebut, dengan tetap mengedepankan kepentingan pemustaka. Bahkan pemustaka ini menjadi bisa menjadi dasar pijakan utama bagi setiap jengkal perubahan dan perkembangan perpustakaan (User-centered development) Terkait dengan hal ini, perpustakaan sendiri harus memahami terlebih dahulu mengenal siap pemustakanya, apa saja yang menjadi kebutuhan informasi penggunanya. Kemudian, beranjak dari sana, bergerak untuk memenuhi kebutuhan informasi pengguna tersebut. II. Permasalahan Prinsip layanan dalam dimensi Library 2.0 adalah two way flow of information, dimana antara pengelola informasi dengan pemustaka tidak berjarak lagi. Di mana pun dan kapan pun layanan bisa dilakukan dan respon atau efek dari layanan tersebut bisa langsung dirasakan dan dilihat oleh kedua belah pihak. Semuanya dapat diukur secara pasti dan transparan. Antara pustakawan dan pengguna terjalin komunikasi dan interaksi yang hidup dan menghidupkan. Perpustakaan memperoleh banyak input, saran, masukan bahkan kritik yang membangun dari pemustaka. Begitu pun sebaliknya, pemustakan dapat dengan segera mengetahui apabila ada perkembangan dan perubahan yang signifikan dari layanan perpustakaan. Namun permasalahan yang terjadi adalah tidak adanya sinkronisasi antara pihak pengelola perpustakaan sebagai penyedia layanan dengan kebutuhan pemustaka sebagai pengguna layanan. Oleh karena itu terjadilah situasi di mana perpustakaan mulai ditinggalkan karena dianggap tidak mampu memberikan apa yang dibutuhkan penggunanya. Masyarakat kini mulai beralih menggunakan search engine yang instan seperti Google, Yahoo, Altavista dan sebagainya. Perpustakaan kesulitan untuk “merangkul” pengguna. Pengelola perpustakaan kebingungan menghadapi pengguna dan kadang-kadang malah tertekan karena merasa tak sanggup lagi dan lelah dengan keinginan pengguna yang memang sangat beragam dan variatif. Oleh karena itu diperlukan skill atau ketrampilan tertentu yang mampu menjawab permasalahan ini. Jawaban yang pasti adalah bahwa pengelola perpustakaan dan informasi harus menguasai ketrampilan komunikasi yang baik. Komunikasi tidak hanya mencakup ucapan lisan saja, namun sangat luas. Bahkan ketika seorang pustakawan itu terdiam, maka ia pada hakekatnya sedang berkomunikasi (dengan diamnya tersebut). Bahkan ketika seorang pustakawan memakai pakaian yang bewarna abu-abu atau berwarna kuning atau bahkan berwarna hitam, maka pada hakekatnya ia tengah mengkomunikasikan dirinya. Bahkan John Woods, seorang ahli komunikasi mengatakan : "You can't not communicate. Everything you say or do or don't say and don't do sends a message to others." III. Tujuan Tujuan penulisan ini adalah untuk memberikan bekal dan arahan kepada semua pustakawan dan para pengelola informasi dan perpustakaan mengenai urgensi komunikasi efektif, terutama dalam ranah layanan perpustakaan dilihat dari konteks library 2.0 sebagai konsekuensi dari perkembangan teknologi komunikasi dan informasi saat ini. IV. Landasan Teori dan Pembahasan 4.1. Tinjauan mengenai Komunikasi Komunikasi menyentuh segala aspek kehidupan kita. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa 60% waktu bangun kita digunakan untuk berkomunikasi. Dalam buku yang berjudul Communication and General Skills for Technician Student dikatakan bahwa : ”....we spend 60 percent of our working lives communicating, or being communicated with, in some way or another. If you’re going to spend that much of your life doing it, then it makses good sense to learn now the skills that will make you better at it.” Komunikasi menentukan kualitas hidup kita. Komunikasi berperan penting dalam membina hubungan yang baik. Para psikolog berpendapat bahwa kebutuhan utama kita sebagai manusia, dan untuk menjadi manusia yang sehat secara rohaniah, adalah kebutuhan akan hubungan sosial yang ramah, yang hanya bisa terpenuhi dengan membina hubungan yang baik dengan orang lain. Abraham Maslow menyebutkan bahwa satu di antara keempat kebutuhan utama manusia adalah kebutuhan sosial untuk memperoleh rasa aman lewat rasa memiliki dan dimiliki, pergaulan, rasa diterima, memberi dan menerima persahabatan. “...people communicate to one another as a part of personal safety. So, it is in our nature as humans to have a physical attraction to communicating with others. Even as newborns, reality as we see it starts with communication without words, but more with physical contact.” (Jones dan Garland) 4.2. Komunikasi Efektif antara Pustakawan dengan Pengguna Perpustakaan Pustakawan tidak dapat dipisahkan dari komunikasi. Bagaimana ia mampu mengenali kebutuhan penggunanya dengan tepat bila tidak berkomunikasi (efektif)? Komunikasi di sini menyangkut komunikasi secara menyeluruh, baik secara verbal maupun non verbal. Bahkan pada dasarnya, menurut ahli komunikasi, manusia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berkomunikasi. Seorang pustakawan, ia berkomunikasi tidak hanya secara lisan, tapi juga dengan penampilannya, ia berkomunikasi melalui pandangan matanya, hembusan nafasnya, bahkan ia berkomunikasi dengan sikap diamnya.
Sumber : www.2-in-2-1.co.uk
58% komunikasi kita didominasi oleh fisik atau bahasa tubuh, dimana hal ini akan memberi dampak baik bagi si komunikator maupun komunikan
Komunikasi dikatakan efektif apabila terdapat kesefahaman antara komunikator dan komunikannya. Proses memahami merupakan suatu proses dalam diri seseorang, tetapi proses memahami ini sangat tergantung pada situasi atau pertalian antar-pribadi. Jadi sangat tergantung dari apa yang terjadi antara orang-orang yang mempergunakan informasi itu bersama-sama. Begitu pula dengan interaksi pustakawan dan penggunanya. Komunikasi dikatakan efektif di antaranya apabila sudah terjadi kesefahaman di antara keduanya. Pesan pustakawan sampai, difahami bahkan lebih jauh dilaksanakan oleh penggunanya. Begitupun dari sisi pengguna, kebutuhan informasinya terpenuhi, kemudian ia memperoleh pemahaman baru yang membangun dirinya. Mencapai kesefahaman untuk tercapainya tujuan bersama merupakan hal yang rumit. Banyak hal yang dapat menyebabkan hal ini sulit terlaksanakan dengan baik. Faktor frame of reference (pengalaman terkait keilmuan) dan field of experience (pengalaman terkait jam terbang dalam melaksanakan sesuatu) sangat mempengaruhi. Oleh sebab itu, seorang pustakawan harus jeli dan mampu melihat umpan balik (efek) yang diperlihatkan penggunanya ketika proses komunikasi berlangsung. Sehingga dari perkataan, anggukan kepala, bahkan lirikan mata, seorang pustakawan harus mampu mencermati apakah penggunanya telah terpuaskan kebutuhannya atau belum. Baik pesan maupun umpan balik, kedua-duanya merupakan informasi, yakni informasi bagi keduanya untuk saling membentu mencapai tujuan bersama. Berikut adalah beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seoran pustakawan ketika berinteraksi dengan penggunanya agar tujuan komunikasi tercapai, yakni :
  1. 1. Menyusun pesan sebaik mungkin.
Pesan merupakan sekumpulan lambang-lambang. Lambang-lambang itu bersifat verbal dan non verbal. Seorang pustakawan memerlukan suatu strategi dan perencanaan komunikasi untuk mengidentifikasi isi pesan. Intinya, seorang pustakawan harus sedemikian dalam menyusun sebuah pesan, sehingga menarik pengguna dan pada akhirnya memberikan kepuasan terhadap pengguna dan terdapat perubahan yang signifikan pada diri pengguna. Effendi dalam Liliweri mengatakan bahwa sebuah pesan yang baik adalah pesan yang memenuhi syarat sebagai berikut : (1) Pesan disusun dan disampaikan secara menarik perhatian pengguna. (2) Menggunakan lambing-lambang. Lambang di sini bisa berupa kata-kata, anggota badan, bunyi atau bau. (3) Membangkitkan kebutuhan pribadi pengguna serta solusi untuk memenuhi kebutuhannya tersebut. Hal yang harus diperhatikan ketika menyusun sebuah pesan adalah penggunaan tata bahasa, menyangkut pemilihan kata, penyusunan kalimat yang baik dan benar, penggunaan ejaan yang tepat dan sesuai kaidah yang berlaku, serta memakai imbuhan yang beraturan. Dalam komunikasi tatap muka, pustakawan dan penggunanya mempunyai kemampuan control yang sangat tinggi sehingga setiap kesalahan sekecil apa pun akan langsung diketahui. Oleh sebab itu sebisa mungkin faktor kesalahan bahasa harus dihindari. Hal yang tak kalah pentingnya adalah terkait kemampuan mendengar (listening ability). Dalam komunikasi, tak hanya suara yang akan ”terbaca” oleh pengguna, tapi juga bahasa tubuhnya. Langsung atau tak langsung, pesan ini akan memberikan dampak kepada fisik dan mental baik kepada pustakawan sebagai pengirim atau pun kepada pengguna sebagai penerima. Hal ini diterangkan Lis Percival juga dalam http://www.2-in-2-1.co.uk ketika mengemukakan mengenai pengaruh good or bad listening terhadap keseimbangan fisik dan mental seseorang.
Sumber : www.2-in-2-1.co.uk
Dari gambar di atas, apabila dianalogikan ke dalam dunia layanan perpustakaan, dapat dilihat bahwa segala aksi yang dilakukan pustakawan, akan bereaksi terhadap pemustaka. Reaksi yang timbul bisa positif atau negatif. Hal ini tergantung dari ketrampilan pustakawan dalam berkomunikasi (komunikasi dalam ranah yang luas). Jadi, pengguna harus dihargai sebagaimana mestinya. Komunikasi efektif yang dilakukan pustakawan dan para pengelola informasi dan perpustakaan ini akan senantiasa ”terbaca” dan dapat dirasakan oleh pemustaka meskipun jarak fisik diantara keduanya terpaut jauh sebagai konsekuensi dari teknologi saat ini. Nada suara yang terdengar atau yang disampaikan melalui tulisan, akan tetap ”terbaca” dan terasa oleh pemustaka. Sehingga, dalam semua situasi, para pengelola jasa informasi dan perpustakaan harus selalui tanggap dengan sepenuh hati dalam melayani pemustaka.
  1. 2. Mengenal pengetahuan pengguna dengan baik.
Pengetahuan dan pemahaman seorang pustakawan mengenai kemampuan, kepandaian, kebiasaan dan hal-hal lain yang khusus terkait penggunanya adalah sesuatu yang sangat diperlukan. Bagaimana komunikasi akan berjalan dengan baik, apabila di antara keduanya tidak saling mengenal. Atau setidaknya, apabila pustakawan bertemu dengan seorang pengguna yang memerlukan jasanya, maka semaksimal mungkin ia berupaya memahami dan menyelami penggunanya tersebut, sehingga menjadi jelas apa yang menjadi kebutuhannya disesuaikan dengan karakter setiap pengguna.
  1. 3. Mengenal situasi /konteks
Setiap pesan hanya bermakna dalam satu situasi komunikasi tertentu. Situasi tidak sekedar tempat melainkan keadaan yang menggambarkan suasana kebathinan manusia. Seorang pustakawan harus berupaya berempati dan memahami dengan baik terhadap kebutuhan seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsinya. 4.3. Pustakawan sebagai Agent of Change melalui Komunikasi Fihak-fihak yang terlibat dalam suatu proses komunikasi, mau tak mau pasti akan mengalami beberapa perubahan. Begitu pula yang terjadi di antara pustakawan dan penggunanya. Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi dan harus terjadi. Bila dalam suatu proses komunikasi, tidak terdapat perubahan apapun, maka komunikasi itu tidak ada manfaatnya sama sekali. Pertanyaannya adalah ke arah mana perubahan itu terjadi. Lalu seberapa cepat perubahan itu terjadi. Banyak di antara perubahan yang diakibatkan oleh komunikasi terjadi secara spontan dan tidak sengaja. Tetapi jika hendak memecahkan suatu permasalahan tertentu, maka tidak ada salahnya komunikasi direncanakan dan dirancang sedemikian rupa, sehingga menghasilkan perubahan yang lebih besar dan dalam jangka waktu yang lebih singkat. Berlainan dengan perubahan tak disengaja, maka perubahan yang berencana mengalami pengarahan oleh satu fihak atau lebih. Caranya ialah dengan sengaja menggunakan informasi baru bersama-sama dengan maksud untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Dalam dunia perpustakaan dan minat baca, telah jelas bahwa perubahan yang ingin dicapai adalah perubahan menuju masyarakat yang cinta membaca, masyarakat yang mampu menyedari kebutuhannya terhadap informasi, memiliki kemampuan untuk mencari informasi. Kemudia setelah informasi itu ditemukan, ia juga mampu mengevaluasi, memilah dan memilih informasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Kemudian tidak hanya itu ia pun mampu menggunakannya dengan baik (ethical manner), serta mampu mengkomunikasikannya dengan baik pula. Pustakawan berjuang untuk perubahan itu. Pustakawan menjadi agent of change. Pustakawan bisa merencanakan dan mengarahkan komunikasi yang terjadi di antara dirinya dengan penggunanya untuk mencapai tujuan tersebut. Jika komunikasi yang direncanakan untuk menimbulkan perubahan, maka pesan-pesan harus direncanakan isinya sehingga mengandung perubahan-perubahan psikologis dan sosiologis yang mendukung ke arah itu. V. Kesimpulan dan Saran 5.1. Kesimpulan Seorang pustakawan atau pengelola informasi dan perpustakaan harus menguasai ketrampilan komunikasi efektif. Uraian tentang komunikasi dan informasi sebagai ilmu dan proses kegiatan praktis, kekuatan yang dimilikinya, cara menguasainya, teknologi penunjangnya, menjelaskan kepada kita betapa dalam era masyarakat informasi, ilmu komunikasi merupakan sebuah keharusan. Penguasaan pada ilmu komunikasi akan mampu membuat pemiliknya memiliki kemampuan menguasai berbagai sisi kehidupan. Dengan ilmu komunikasi dan informasi, seseorang bisa berperan pada semua bidang kehidupan social, bahkan dalam bidang bisnis sekalipun. Bekal ilmu lain akan membuat penguasa ilmu dan ketrampilan komunikasi memiliki nilai tambah yang luar biasa. Dalam semua sisi kehidupan, termasuk di dunia layanan perpustakaan, maka mempelajari komunikasi adalah sebuah keniscayaan. Perkembangan teknologi informasi menuntut pustakawan untuk lebih mengenal pemustakanya, serta berinteraksi aktif dan efektif dengan mereka. Librarian serve people,not books! 5.2. Saran Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini membawa konsekuensi yang nyata bagi semua pengelola informasi. Oleh karena itu pustakawan dan pengelola informasi diharapkan :
  1. Selalu bersikap terbuka (open minded), mau dan siap belajar dan mempelajari hal-hal baru sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
  2. Lebih mencintai pekerjaan yang dihadapi. Hal ini dikarenakan pelayanan yang berasal dari hati (yang ikhlas) akan sampai juga ke hati. Pustakawan nyaman dengan pelayanan yang diberikan dan begitu pula dengan pemustakanya. Librarian serve people, not books.
  3. Ketrampilan komunikasi adalah ilmu sekaligus seni yang harus dikuasai. Alangkah lebih baiknya apabila lembaga perpustakaan mengadakan pelatihan secara rutin untuk mengasah kemampuan ini. ***
Daftar Pustaka
  1. Basuki, Sulistyo. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia.
  2. Buckland, Michael K. 1998. Library Sercices in Theory and Context. Newyork: Pergamon Press.
  3. Erwina, Wina. 2008. Jasa Layanan Perpustakaan. Modul perkuliahan Jasa Layanan Perpustakaan. Program Pascasarjana Ilmu Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.
  4. Gerard, David. 1978. Library in Society. London : Clive Bingley.
  5. Godden, Iren P. 1984. Library Technical Services: Operation and management. London: Academic Press.
  6. http://www.unpad.ac.id. Kualitas sebagai Kata Kunci Pelayanan. Artikel. Diakses tanggal 9 Oktober 2008.
  7. Sumardji. P. 1982. Pelayanan Perpustakaan. Jakarta : Kanisius.
  8. Sutarno, NS. 2005. Tanggung Jawab Perpustakaan. Jakarta : Sagung Seto.
  9. Sutarno, NS. 2006. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta:
  10. Liliweri, Alo. 1997. Komunikasi Antar Pribadi. Bandung :Citra Aditya Bakti.
  11. Barata, Atep Adya. 2003.Dasar-Dasar Pelayanan Prima. Jakarta: Elex media Komputindo.
  12. Schramm, Wilbur. 1977. Asas-Asas Komunikasi Antar Manusia. Jakarta: LP3ES.
    1. Rusmana, Agus. 2003. Komunikasi dalam Dunia Kita. Bandung :Jurnal Komunikasi dan Informasi Fikom Unpad.
    2. Tubbs, Stewarr L dan Moss, Sylvia. 1996. Human Communication:Prinsip-prinsip Dasar . Bandung: Rosdakarya.
    3. www.ciadvertising.org. Why We Communicate. Diakses tanggal 10 Juni 2008.
    4. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdikbud, Balai Pustaka, Jakarta 1996
    5. Cara memiliki dan menjaga kesehatan mental yang tangguh. www.wikimu.com. Diakses tanggal 10 Juni 2008.
    6. Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar. Bandung: rosdakarya.
    7. 19. http://www.planet-bekasi.web.id. Penghalang Verbal dalam Membangun Komunikasi yang Efektif.
    8. Mangindaan, Lukas. Empati sebagai Dasar Hubungan yang Adekuat Antar manusia. http://www.pdskjijaya.org. Diakses tanggal 10 Juni 2008.
    9. Widyarini, Nilam. Membuka Diri, Siapa Takut?. http://www.kompas.com. Diakses tanggal 10 Juni 2008.
    10. Widya Saraswati. Stres Menurunkan Kekebalan Tubuh. http//www.klipingut.wordpress.com. Diakses tanggal 10 Juni 2008.
    11. Abi Abdukkah. Peran Media Komunikasi Modern (TV) Sebagai Sarana untuk Menghancurkan. http//www.al-ikhwan.net. Diakses tanggal 11 Juni 2008.
    12. Liz Percival. Good and Bad Listening. http//www.2-in-2-1.co.uk. Diakses tanggal 12 Juni 2008.
    13. Liz Percival. How We Communicate. http//www.2-in-2-1.co.uk. Diakses tanggal 12 Juni 2008.
    14. http://www.creativeconceptscounselling.ca. Counselling/Adlerian Psychology.
    15. Rakhmat, Jalaluddin. 2003. Psikologi Komunikasi. Bandung : Rosdakarya.
    BIODATA :
Nama : Yulianti, S.Sos. Pekerjaan : Pustakawan Asal Instansi : Fakultas Ilmu Komunikasi – Universitas Padjadjaran Jl. Raya bandung Sumedang Km.21
, artikel lomba, artikel perpustakaan, lomba, lomba perpustakaan, lomba tulis artikel, perpus, pustakawan, teratama

Anda sedang membaca Communicative Services, Prinsip Layanan Perpustakaan Ideal kategori Perpustakaan. Silahkan beri komentar, baik berupa Kritik, Saran, maupun Pertanyaan. Semoga bermanfaat.