MEMAKSIMALKAN PERAN PERPUSTAKAAN MASJID DALAM MEMBANGUN BUDAYA MEMBACA MASYARAKAT
Senin, 24 Mei 2010 03:11:01
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
Perpustakaan.
- I. PENDAHULUAN
Iklan pendidikan gratis yang ditayangkan berbagai stasiun televisi swasta ternyata tidak melegakan dada para orang tua siswa. Bahkan iklan yang mulai ditayangkan sejak bulan April lalu menuai protes keras dari berbagai pihak. Protes itu terkait tiga hal, yaitu ; faktanya pendidikan tidak gratis, fungsi BOS yang tidak efektif karena APBD sejumlah daerah terbatas, dan munculnya stigma dari masyarakat bahwa pendidikan gratis akan berdampak negatif pada kualitas pendidikan itu sendiri.
Kondisi pendidikan di Indonesia yang carut marut ini, diperparah dengan rendahnya minat membaca dari masyarakatnya. Hal ini bisa diidentifikasi dari minimnya antusias masyarakat untuk mendatangi perpustakaan terdekat. Dewasa ini, masyarakat kita telah terjerumus ke dalam budaya hidup konsumtif dan hedonistik, sehingga hidup dan kehidupannya terperangkap dalam stagnasi intelektual.
Pendidikan gratis yang pelaksanaanyan setengah hati bukan jalan keluar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ini. Diperlukan perubahan cara berpikir dan tindakan dari masing-masing pihak. Mengoptimalkan peran wadah atau lembaga kemasyarakatan dan keagamaan (perpustakaan masjid) serta memaksimalkan fungsinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, merupakan sebuah solusi konkrit yang mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat.
- A. Latar Belakang Masalah
Fakta sejarah membuktikan, fungsi masjid di jaman nabi Muhammad SAW bukan saja sebagai pusat kegiatan ibadah yang bersifat ubudiah, tetapi juga merupakan pusat kegiatan muamalah, baik yang bersifat politik, ekonomi, sosial, pendidikan, budaya maupun pertahanan dan keamanan.
Dalam proses sejarah pengembangan dan syiar agama Islam di Indonesia, fungsi masjid dan kegiatan pemerintahan serta kehidupan masyarakat sangat berkaitan erat. Hal ini dibuktikan dengan begitu banyaknya bangunan masjid yang bersebelahan dengan pusat pemerintahan dan alun-alun sebagai pusat aktifitas rakyat.
Akan tetapi, masjid yang ada pada saat ini hanya berkisar pada tempat rutinitas ibadah mahdah saja. Sedikit sekali masjid yang memaksimalkan peran dan fungsinya untuk kemajuan jama’ah dan lingkungannnya. Bahkan, yang sangat mengerikan, muncul image di mata masyarakat bahwa masjid dewasa ini dijadikan "sarang" untuk pembinaan dan pelatihan para teroris. Sehingga pada akhirnya minat masyarakat untuk memakmurkan masjid menjadi terkikis.
Minimnya perhatian pemerintah, kurangnya tenaga profesional untuk mengurus perpustakaan masjid, "wajah" perpustakaan yang tidak terurus, dan rendahnya antusias masyarakat terhadap perpustakaan masjid, merupakan masalah yang harus dipecahkan bersama-sama.
Oleh karena itu, sebagai lambang agama yang memiliki fungsi vital bagi pencerahan spiritual dan peningkatan intelektual serta pengembangan kesalehan sosial, maka masjid harus dikembalikan pada fungsinya semula. Salah satu aspek yang perlu ditonjolkan dari potensi masjid adalah peran dan fungsinya sebagai "kawah candradimukanya" generasi Islam untuk menambah wawasan dan pengetahuan sekaligus pengembangan potensi mereka. Sehingga cahaya Islam yang telah redup bisa bersinar lagi dan mampu menjadi mercusuar peradaban dan kebudayaan dunia.
- B. Tujuan Penulisan
Penulisan artikel ini disusun untuk mencapai tujuan sebagai berikut :
- Mengoptimalkan Peran Masjid Dalam Mencerdaskan Kehidupan Masyarakat
- Mencetak Pustakawan Masjid yang Handal dan Profesional
- Membangun Budaya Membaca Masyarakat Yang Tinggi
- C. Landasan Teori
- Program perpustakaan masjid telah digagas pertama kali oleh Pusat Perpustakaan Islam Indonesia (PPII) di masjid Istiqlal Jakarta pada tahun 1974.
- Kemudian pada tanggal 18 Mei 1983 di Jakarta didirikan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Organisasi ini merupakan forum komunikasi, konsultasi dan kerjasama antar pesantren dalam usaha mengembangkan diri dan lingkungannya.
- Selanjutnya program ini didukung dan dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren sejak tahun 2003 sampai sekarang.
- II. PEMBAHASAN
- Memanfaatkan Peran Masjid Untuk Merubah Kebudayaan dan Peradaban Masyarakat
Mengembalikan fungsi masjid sebagaimana era Nabi Muhammad sangat urgen, agar fungsi transformasi masjid dapat berjalan secara maksimal dan agenda pembangunan negara dapat semakin mantap. Bangunan yang pertama dibangun Nabi SAW di Madinah adalah masjid dan pasar. Masjid sebagai simbol kegiatan dakwah Islam yang menjadi sarana ibadah, penyebaran ilmu, media perekat sosial, dan pemecah konflik yang terjadi.
Sedangkan pasar dijadikan media transaksi ekonomi yang menjadi jantung perekonomian umat. Dengan keduanya, Islam berkembang, bersinar, dan menjulang tinggi ke angkasa dengan mercusuar peradabannya yang agung dan suci. Mercusuar peradabannya dibangun di atas pendidikan dan keilmuan yang memadai, solidaritas sosial yang solid, kekuatan materi yang kuat, dan kepemimpinan kharismatik yang demokratis, partisipatoris, akuntabel, kredibel, akseptabel, egaliter dan transparan.
Salah satu kelebihan masjid yang harus diperhitungkan adalah kuantitas dan fanatisme jama’ah masjid itu sendiri. Sehingga, untuk memberdayakan dan mengembangkan masjid tidak terlalu sulit. Hanya saja, aspek yang harus diperhatikan adalah pelayanan perpustakaan masjid dalam memenuhi kebutuhan mereka sesuai dengan keahlian dan profesinya.
Dewasa ini, paling banyak koleksi buku atau literatur yang dimiliki perpustakaan masjid hanya berkisar pada kitab-kitab keagamaan, sedangkan koleksi buku-buku atau literatur umum sangat minim sekali. Dan kalaupun ada buku-buku atau literatur umum tidak merepsentatifkan kebutuhan dan keperluan jama’ahnya.
Oleh karena itu, sudah seharusnya perpustakaan masjid menyediakan buku-buku bacaan umum atau literatur-literatur lain yang sesuai dengan kondisi sosial ekonomi mereka. Sehingga terjadi proses take and give diantara perpustakaan masjid dan jama’ahnya.
Sejarah telah mencatat, bahwa masjidlah yang menjadi landasan take of nabi Muhammad SAW pada peristiwa Isra Mi’raj untuk mendapatkan perintah-perintah dari Allah SWT secara langsung. Dan pada akhirnya, dari masjidlah Islam bersinar hingga menguasai sepertiga dari luas dunia selama tujuh abad lamanya.
- Mengoptimalkan Peran dan Fungsi Remaja Masjid
Perpustakaan masjid yang ada di Indonesia tidak memiliki tenaga profesional, sehingga kualitas kinerjanya tidak maksimal. Sumber daya manusia untuk digunakan sebagai tenaga ahli di perpustakaan masjid sangat minim sekali. Hal ini, dikarenakan minimnya anggaran untuk mengadakan workshop atau pelatihan mengenai peningkatan kualitas pengelola literatur perpustakaan masjid.
Mengoptimalkan peran dan fungsi remaja masjid bisa dijadikan solusi untuk menanggulangi krisis pustakawan yang beroperasi di perpustakaan masjid. Tentunya, mereka harus diberikan pelatihan dan keterampilan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan perpustakaan. Namun, yang tidak kalah pentingnya dalam membina remaja masjid untuk disiapkan menjadi kader pustakawan perpustakaan masjid adalah pembinaan mental dan karakter mereka, sehingga mereka menjadi pustakawan-pustakawan yang handal dan profesional.
Kader-kader pustakawan masjid yang handal dan professional, harus memiliki sikap dengan konsep AKSI, yaitu :
- Aktif
Seorang pustakawan dituntut untuk selalu aktif dalam menjalankan tugasnya sebagai pustakawan masjid. Motivasi dan arahan dari pengelola/ takmir masjid/ pemerintah atau para tokoh agama bisa tercapainya hal ini.
- Kreatif
Wajah perpustakaan yang tidak bersih, indah, dan nyaman bisa menggangu ketenangan pengunjung perpustakaan. Oleh karena itu, kreatifitas pustakawan sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan perpustakaan yang kondusif.
- Simpatik
Pelayanan kepada pengguna jasa perpustakaan yang dilakukan dengan sepenuh hati akan memikat hati mereka untuk sering mengunjungi perpustakaan. Oleh karenanya, sikap sopan santun dan bertutur kata yang halus, mutlak dimiliki oleh setiap pustakawan masjid.
- Inovatif
Persaingan yang terjadi antara perpustakaan diberbagai tempat dan daerah sangat ketat. Sehingga, setiap pengurus dan pengelola harus memiliki terobosan-terobosan baru untuk menghidupkan dan memerdayakan perpustakaan masjid. Pelatihan atau workshop mengenai organisasi dan manajemen perpustakaan wajib diikuti oleh para kader pustakawan masjid.
- Membangun Sinergitas Antara Pengelola, Ulama dan Umara’
Kejayaan dan masa keemasaan Islam terjadi pada masa pemerintahan al-Makmun dan Harun al-Rasyid dari dinasti bani Abbasiyah. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas bahwa agama Islam pada masa itu telah mencapai kemajuan di segala bidang. Berdirinya perpustakaan-perpustakaan yang memiliki koleksi lengkap berbagai disiplin ilmu pengetahuan menjadi indikator kejayaan Islam pada masa itu.
Masa keemasaan yang diraih umat Islam pada masa dianasti Abbasiyah, tidak terlepas dari besarnya perhatian khalifah pada waktu itu. Hal ini bisa dilihat dari kesungguhan khalifah dalam membangun gedung-gedung perpustakaan yang mewah, nyaman, bersih, dan indah, serta mendatangkan para penerjemah dari luar negeri untuk menggalakan program penterjemahan secara masal buku-buku ilmu pengetahuan yang berbahasa non Arab.
Fakta di atas harus dijadikan sebuah "rekam jejak" untuk memajukan kuantitas dan kualitas perpustakaan masjid dewasa ini. Agar bisa menghidupakan dan memberdayakan perpustakaan masjid, pengelola harus bisa bersinergi dengan pihak-pihak lain. Seperti pemanfaatan sebagian lahan masjid untuk membangun koperasi atau pertokoan yang menampung hasil kreatifitas masyarakat sekitar. Dengan ini semua, diharapakan terjadi proses simbiosis mutualisme antara masjid, pemerintah, dan masyarakat.
III. KESIMPULAN DAN SARAN
Perpustakaan adalah inti setiap program pendidikan dan pengajaran (The Heart of The Education Programme). Oleh karena itu, nilai suatu lembaga atau sebuah komunitas ditentukan pada kualitas dari kelengkapan dan kesempurnaan jasa yang diberikan oleh perpustakaannya.
Program perpustakaan masjid telah sejalan dengan UUD 1945 dan ajaran Islam, yaitu turut serta mencerdaskan kehidupan umat dan bangsa. Oleh karena itu, perpustakaan masjid harus dikelola dengan baik dan benar oleh pustakawan yang handal dan profesional pula.
Agar terbinanya budaya membaca dikalangan jama’ah masjid dan masyarakat sekitar, perpustakaan masjid harus menyediakan dan memberikan jasa yang sesuai dengan kebutuhan dan keperluan jama’ah masjid itu sendiri.
Perpustakaan masjid yang dikelola dengan baik dan benar bisa menjadikan jama’ahnya ke dalam komunitas yang terbiasa membaca (reading society), dan lebih dari itu bisa menjadi masyarakat yang terbiasa belajar (learning society), sehingga pada akhirnya menjadi masyarakat yang terbiasa belajar seumur hidupnya (long life education).
Tidak ada gading yang tak retak, mungkin pepatah itulah yang cocok dengan artikel ini. Karenanya, saran dan kritikan yang membangun sangat diharapkan untuk menjadi bekal penulis di masa yang akan datang.
REFERENSI
- Al-Qaradhawi, Yusuf. 2000. Tuntunan Membangun Masjid. Terj. M. Ali al-Kattani. Jakarta : Gema Insani Press.
- Darmono. 2006. Pendirian Perpustakaan, Pengadaan Gedung dan Tata Ruang Perpustakaan. Surabaya : Departemen Agama Propinsi Jawa Timur
- Depag RI. 2003. Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan di Pondok Pesantren. Jakarta : Ditpekapontren Ditjen Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama
- E. Ayub, M, dkk. 1996. Manajemen Masjid. Jakarta : Gema Insani Press.
- K. Hitti, Philip. 2005. History Of The Arabs, Terj. Cecep Lukman Hakim dkk. Jakarta : Serambi Ilmu Semesta
- Kailani Eryono, Muhammad, dkk. 1985. Pedoman Perpustakaan Masjid. Jakarta : UI Press
- Yatim, Badri. 1997. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
BIODATA PESERTA
Nama Lengkap : Ummu Hani
Alamat : Blok Gondang Rt 01/ Rw 02 Desa Babakan Kec. Ciwaringin Kab. Cirebon 45167 Jawa Barat
Pekerjaan : Mahasiswa
Asal Instansi : IAIN Sunan Ampel Surabaya
, artikel lomba, artikel perpustakaan, lomba, lomba perpustakaan, lomba tulis artikel, perpus, pustakawan, teratama
Loading...
Anda sedang membaca MEMAKSIMALKAN PERAN PERPUSTAKAAN MASJID DALAM MEMBANGUN BUDAYA MEMBACA MASYARAKAT kategori Perpustakaan.
Silahkan beri komentar, baik berupa Kritik, Saran, maupun Pertanyaan.
Semoga bermanfaat.