Menuju Terciptanya Masyarakat Bibliophile; Memulai dari Perpustakaan Sekolah
Rabu, 28 April 2010 07:57:45
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
Perpustakaan.
- A. Pendahuluan
"I cannot live without books"
(Thomas Jofferson, Penulis The Declaration of Independence, dan Pendiri Perpustakaan Nasional AS., The Library Of Congress)[1]
Di negeri kita, antara manusia dan buku, belumlah terdapat hubungan yang harmonis. Jangankan menjadikan buku sebagai kebutuhan dan syarat hidup, sebagaimana yang dituturkan oleh Thomas Jefferson di atas, memosisikan buku sebagai teman di kala senggang saja, hanya sedikit orang yang mempraktikkannya. Kongkretnya, buku masih belum memasyarakat; masih ekslusif, bahkan cenderung elitis. Seolah-olah buku hanya pantas dibaca oleh orang-orang yang berkelas: baik secara sosial maupun pendidikan.
Sejak kecil, anak-anak dilatih dan dibiasakan untuk lebih menyukai gelegak modernitas, yang ruah dengan huru hara dan menghabiskan uang dengan percuma (budaya konsumerisme), dari pada sekadar di ajak untuk membeli buku.[2] Karenanya tidak heran, bila pada saatnya nanti, mereka lebih betah berlama-lama di tempat hiburan: televisi, game, bioskop, konser dan seterusnya, ketimbang duduk manis membaca buku. Mereka pun lebih suka membelanjakan uangnya di mal-mal dan pusat perbelanjaan, demi mempertaruhkan gengsi, dari pada sekadar membeli buku.
Dengan begitu, tradisi membaca tidaklah membudaya, hanya untuk kalangan-kalangan tertentu saja. Bahkan minat baca masyarakat kita cenderung rendah, walaupun di sisi yang lain, melek aksara di negeri ini sudah lebih dari 90%.[3]
Sungguh ironis. Di negeri yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) ini, seringkali dijuluki Garden of Eden (Taman Surga), masyarakatnya justru masih belum mampu membaca dengan "benar". Padahal kita tahu, bahwa betapa pentingnya membaca dalam menumbuhkembangkan pola pikir yang dinamis serta progressif. Kemajuan suatu bangsa, sejauh yang dipaparkan sejarah, senantiasa berpihak pada bangsa yang membaca. Yang di dalamnya tercipta tradisi baca buku yang kuat, sudah membudaya. Lebih dari itu, mereka telah berada pada taraf mencintai buku (bibliophile), menempatkan buku sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup. Atau—meminjam bahasa Muhiddin M. Dahlan—telah menjadikan buku sebagai "nyawa kedua".
Merindukan bangsa yang bipliophile di negeri ini memang masih terasa sulit direngkuh. Tapi sulit bukan berarti tidak bisa. Selagi ada kemauan dari berbagai elemen bangsa, hal tersebut bukan mustahil untuk digapai. Karenanya, sejak sekarang harus dimulai. Masa sekolah merupakan masa yang potensial untuk itu. Anak didik sudah mesti diajari mencintai baca-buku-perpustakaan. Hal tersebut bisa dimulai dari perpustakaan sekolah.
Dengan demikian, pembahasan tentang upaya membangun perpustakaan sekolah yang representatif dan ramah baca, penting dilakukan. Tulisan ini merupakan langkah awal guna menggapai cita-cita kita, menuju terciptanya masyarakat yang membaca (reading society) dan mencintai buku (bibliophile).
- B. Rumusan Masalah
Agar kajian tentang masalah ini lebih terfokus, maka penulis membuat rumusan masalah dalam bentuk poin-poin pertanyaan sebagai berikut:
- Apa saja faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca siswa di negeri ini?
- Bagaimana strategi-taktis membangun perpustakaan sekolah yang representatif dan ramah baca sebagai metode jitu mendongkrak minat baca siswa hingga berpeluang akan lahirnya Masyarakat bibliophile di negeri kita?
- C. Tujuan
- Guna mengetahui akar masalah rendahnya minat baca masyarakat
- Untuk menemukan cara-cara praktis dalam membangun perpustakaan yang representatif di sekolah dan menjadi rujukan siswa dalam proses belajarnya, serta menjadi medium menumbuhkan kecintaan siswa terhadap buku.
- D. Landasan Teori
Dalam hal ini beberapa landasan konsep, teori, dan atau pendapat yang berkaitan dengan judul yang penulis angkat.
- Tentang Membaca
Berkaitan dengan membaca, Djajuliyanto mengatakan:
"Membaca adalah proses berpikir yang di dalamnya mencakup kegiatan menilai, memutuskan, mengimajinasi, dan memecahkan masalah. Karena itu, membaca merupakan suatu proses yang rumit dan unik sifatnya." [4]
- Tentang Perpustakaan
Rizal menyebutkan bahwa Perpustakaan memiliki lima fungsi penting, yaitu: edukatif, informatif, rekreatif, dokumentatif, dan riset. Kelima fungsi ini harus dijadikan ruh dan landasan pijak dalam pengembangan perpustakaan yang representatif di sekolah. Sekolah tidak hanya dijadikan tempat dokumentasi, yang ruah dengan beragam-bentuk buku-buku usang terbitan lama, tapi juga mesti menyajikan informasi-informasi terbaru (informatif), sebagai sarana dan sentra pembelajaran bagi siswa (edukatif), dan juga menjadi tempat yang menyenangkan dan dapat menentramkan, sehingga menjadikan anak didik betah berlama-lama di perpustakaan. [5]
Azhar Arsyad berkaitan dengan gagasan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran mengatakan:
"Semestinya perpustakaan menjadi sentrum pembelajaran dimana segala pelajaran dan materi dimulai, didiskusikan, dan didalami dari perpustakaan. Nyaris tidak ada sumber ilmu selengkap perpustakaan."[6]
- E. Pembahasan
- 1. Siswa dan Buku; Sebuah Ironi
"Pengetahuan sebagian besar tidak didapatkan dari bangku sekolah, melainkan dari buku" (Ajip Rosidi)[7]
"Sekolah tanpa perpustakaan bagiku bukan sekolah, pelajar tanpa buku bagiku bukan pelajar" (Minda Perangin Angin)[8]
Mestinya, terdapat hubungan yang niscaya antara siswa, sekolah dan (membaca) buku. Sebagaimana yang dituturkan oleh Minda di atas, buku harusnya menjadi bagiaan tak terpisahkan dari sekolah dan siswa itu sendiri. Bahkan secara provokatif, Ajip Rosidi, sastrawan terkemuka di Indonesia, lebih percaya buku dari pada sekolah.
Terlepas apakah benar membaca lebih penting dari sekolah seperti "fatwa" Ajip Rosidi di atas, tapi yang jelas, sekolah adalah institusi pendidikan yang bisa mengantarkan siswa untuk (selalu) membaca dan cinta buku. Sekolah sebagai sarana strategis dalam membangun tradisi membaca di kalangan siswa dengan memanfaatkan sarana yang dimiliki: perpustakaan sekolah.[9]
Kendati demikian, tradisi membaca pada siswa kita tidak serta merta membudaya. Sangat sedikit di antara mereka yang menjadikan membaca sebagai hobi, apalagi kebutuhan hidup. Salah satu indikasinya, saat istirahat, mereka lebih suka berdesak-ria di kantin sekolah, dari pada bersunyi-senyap di perpustakaan. Atau, kalaupun tidak ke kantin, umumnya mereka lebih demen ngerumpi sesama siswa ketimbang duduk manis membaca buku.
Hemat penulis, setidaknya ada beberapa faktor yang melatari rendahnya minat baca siswa di negeri ini. Pertama, faktor keluarga. Sebagaimana mafhum, di negeri ini, sangat sulit ditemui apa yang diistilahkan oleh Mohammad Ali Hisyam sebagai "keluarga buku"[10], lebih-lebih di pedesaan. Padahal di sisi lain, pembiasaan mengakrabi buku terhadap anak-anak sedari kecil sangat berpengaruh pada tumbuh-berkembangnya minat baca setelah dewasa. Sekedar menyebut beberapa contoh, Franz Magnis-Suseno, Lies Marcoes Natsir, Ajip Rosidi, merupakan intelektual-cendikia yang (di)akrab(kan) dengan buku sejak kecil.[11] Pembiasaan tersebut melekat hingga mereka dewasa, sampai akhirnya menempatkan buku sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup mereka sendiri.
Kedua, akses terhadap buku yang terbatas. Di negeri ini, distribusi buku hanya terpusat di kota-kota besar.[12] Jangan harap bisa memuaskan dahaga akan buku di kota-kota kecil, seperti di kota penulis, Sumenep, Madura. Sekalipun berkeliling seantero kota, tak kan ditemui toko buku yang memadai dan reprsentatif. Kalaupun ada toko buku, di dalamnya tak akan ditemui buku-buku yang berkualitas. Kecuali itu, toko buku di Sumenep tak lebih dari loper koran dan majalah, dengan dibumbui buku-buku novel berkualitas rendah, itu pun cetakan lama.
Ketiga, rendahnya daya beli masyarakat. Jangankan untuk membeli buku, memenuhi kebutuhan hidup saja, mayoritas masyarakat Indonesia masih terengah-engah. Padahal di sisi lain, harga buku kian tak terjangkau, sebagai akibat dari naiknya biaya produksi yang disebabkan oleh kenaikan BBM dan kertas. Praktis, buku, bagi masyarakat kita, kian "melangit", jauh dari jangkauan. Maka, jangan heran bila kemudian ada mitos, bahwa buku hanya pantas untuk dimiliki dan dibaca oleh orang kaya.
Sementara itu, di saat yang sama, masyarakat dihadapkan pada sumber informasi dan hiburan yang murah meriah, yakni televisi. Sehingga dalam prakteknya, masyarakat lebih menggandrungi televisi dari pada buku.
Keempat, perpustakaan yang tidak maksimal, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Secara kuantitas, di seantero negeri, di antara sekitar 250.000 sekolah dari SD-SMA dan sederajat, hanya sekitar 16.000 sekolah yang memiliki perpustakaan.[13] Pada saat yang bersamaan, perpustakaan yang ada justru banyak terbelit masalah. Mulai dari pelayan yang tidak ramah,[14] koleksi yang tidak memadai, hingga jam buka yang terlalu pendek. Kesemua itu menjadikan perpustakaan tidak maksimal guna mendongkrak minat baca siswa.
- 2. Membangun Perpustakaan Sekolah Representatif
"Perpustakaan Sekolah itu harus ada pada tiap-tiap lembaga pendidikan. Bila tidak ada ruang perpustakaan, pakailah salah satu ruang kelas. Jika ruang kelas tidak ada, pakailah ruang pojok dengan rak bukunya. Jika tak ada ruang pojok? Tutup saja sekolahnya!" (Prof. Dr. Darmodiharjo, mantan Dirjen Dikdasmen, Depdiknas)[15]
Di saat akses siswa terhadap buku terbatas, daya beli rendah, serta tidak lahir dari "keluarga buku", maka perpustakaan sekolah menjadi satu-satunya harapan guna membiasakan diri siswa dalam membaca, hingga akhirnya berkembang menjadi cinta baca-cinta buku (bibliophile).
Namun ironisnya, pepustakaan sekolah tak lebih baik dari gudang: tempat penyimpanan buku-buku (pelajaran) lama dan tak terpakai. Umumnya, tempatnya kusam dan berbau, hingga jangankan betah berlama-lama di perpustakaan, mengunjunginya saja merupakan suatu hal luar biasa. Singkatnya, perpustakaan sekolah di negeri ini, banyak yang tak terurus. Dalam istilah pesatrennya, wujuduhu ka adamihi (adanya seperti tidak ada).
Para pengelola pendidikan biasanya lebih suka membangun dan melengkapi fasilitas olahraga dari pada perpustakaan. Padahal, pemerintah, melalui UU. No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, telah menetapkan bahwa setiap sekolah harus memiliki perpustakaan yang memenuhi standar nasional dan mengalokasikan sedikitnya 5% untuk perpustakaan.[16] Namun, seringkali UU tersebut diabaikan.
Karenanya perlu ada langkah strategis-taktis guna mengembalikan fungsi perpustakaan sebagai sentra pembelajaran dan medium untuk mendongkrak minat baca siswa. Hal ini akan berjalan baik, bilamana ada political will (kehendak politik) dari pengelola lembaga pendidikan untuk mengembangkan perpustakaan sekolah.
Sebagai langkah awal, adalah penting bagi pengelola pendidikan untuk memugar gedung perpustakaan, baik interior maupun eksteriornya. Usahakan gedung perpustakaan semencolok mungkin. Minimal, hal tersebut akan menarik perhatian siswa untuk sekedar melihat-lihat bangunan tersebut.
Kedua, memperbaharui dan melengkapi koleksi. Bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan sekolah harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan serta minat dan kecendrungan siswa. Selain itu, koleksi perpustakaan sekolah harus beragam: mulai koran, majalah, tabloid, buletin, jurnal hingga buku-buku penunjang pembelajaran. Namun hendaknya, buku-buku cerita dan tentang remaja diperbanyak. Sebab, buku-buku jenis itulah yang biasanya digandrungi siswa yang notabene adalah remaja.
Ketiga, mengangkat pustakawan yang ramah dan murah senyum. Selain itu, pustakawan mesti cinta baca-cinta buku dan mempunyai kepedulian tinggi terhadap peningkatan minat baca. Pustakawan merupakan "tokoh kunci" dalam upaya memberi legitimasi, perlindungan sekaligus ketenangan kepada pengunjung perpustakaan untuk terus "bermesraan" dengan buku. Agaknya, perpustakaan sekolah atau perpustakaan umum wajar menengok atau bahkan meniru strategi perpustakaan Ignatius di Yogyakarta. Meski areal perpustakaannya tidak terlalu luas, suasana yang sejuk dan pelayan ramah-simpatik menjadikan taman baca yang dikelola kaum Nasrani itu digandrungi oleh banyak orang dari berbagai agama untuk datang berkunjung dan menjadi anggota tetap di sana.[17]
Keempat, mengadakan inovasi dan kreasi dalam kegiatan yang ada kaitannya dengan buku dan membaca. Misalnya, pemutaran film dokumenter, lomba mengarang:cerpen, puisi, resensi, sinopsis, membentuk sekolah menulis, diskusi buku, simakan buku, dan seterusnya. Prinsipnya, perpustakaan tidak boleh hanya "berdiam diri", tapi harus menjemput pembaca, dengan kegiatan-kegiatan yang kreatif, inovatif, dan menarik tersebut. Jangan sekadar menjadi "penjaga buku".
Kelima, menjadikan perpustakaan sebagai sentra pembelajaran. Dalam hal ini, tidak saja menjadikan ruangan perpustakaan sebagai tempat belajar, lebih dari itu, kegiatan belajar mengajar di sekolah harus selalu merujuk pada perpustakaan. Misalnya, guru memberikan tugas pada siswa yang sumbernya ada di perpustakaan. Sehingga, mau tidak mau siswa akan pergi ke perpustakaan, dan membaca seperti apa yang diperintahkan guru tersebut.
Keenam, memberikan penghargaan pada pecinta baca-pecinta buku. Hal tersebut menjadi amat penting, bila mengingat penghargaan masyarakat sendiri terhadap buku dan pembaca sangat rendah. Bahkan, orang yang suka baca seringkali disebut "kutubuku". Sebaik-baik "kutu" tetaplah "kutu", yang keberadaannya mengusik ketenangan orang lain. Dengan penghargaan ini, diharapkan kepercayaan diri para pecinta buku itu tidak goyah. Dan semakin yakin bahwa orang yang bergelut dengan buku memang pantas dihargai keberadaannya.
- 3. Menuju Masyarakat Bibliophile
Dengan berbagai strategi optimalisasi perpustakaan sekolah sebagaimana penulis sebutkan di atas, diharapkan intensitas siswa dalam membaca dan kecenderungannya untuk mengakrabi buku kian meningkat. Jika sejak di sekolah dibiasakan untuk tergantung pada buku, maka pada saat lulus nanti, mereka akan kecanduan pada buku, menjadikan buku sebagai kebutuhan hidupnya. Kebutuhan akan buku sama pentingnya dengan kebutuhan pada sandang, pangan, dan papan.
Bila demikian yang terjadi, maka terciptanya masyarakat bibliophile, bukan lagi sekedar angan-angan belaka. Bangsa kita pada akhirnya akan mengejar ketertinggalannya dari negara-negara tetangga yang saat ini jauh melampaui kita. Bangsa kita akan terbebas dari kejumudan dan kebodohan. Sebab, sebagaimana kita ketahui, bahwa dari buku itulah pengetahuan bermula, yang mengajarkan pada manusia tanpa mengenal tempat dan waktu.
- F. Kesimpulan & Saran.
1. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal berikut:
- Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca adalah sebagai berikut:
- Faktor keluarga. Sejak kecil, siswa tidak dibiasakan membaca oleh keluarganya. Padahal, di sisi lain, pembiasaan sejak kecil sangat penting guna menumbuhkan minat baca dan kecintaan anak pada buku.
- Akses terhadap buku yang terbatas. Distribusi buku-buku sejauh ini masih terbatas di kota-kota besar, sehingga menyulitkan siswa di kota kecil untuk mendapat buku yang berkualitas.
- Rendahnya daya beli masyarakat. Sementara di sisi lain, harga buku kian tak terjangkau. Di saat yang sama, masyarakat dihadapkan sumber hiburan dan informasi yang "murah meriah", yakni televisi. Sehingga, televisi lebih diminati daripada buku.
- Perpustakaan yang tidak maksimal. Baik dari sisi jumlahnya yang terbatas, maupun pengelolaannya yang tidak profesional.
- Strategi membangun perpustakaan sekolah yang ramah baca adalah sebagai berikut:
- Memugar gedung perpustakaan, baik interior maupun eksteriornya, hingga tampak mencolok dibandingkan dengan gedung lainnya.
- Memperbaharui dan melengkapi koleksi, sesuai dengan minat dan kecendrungan siswa.
- Mengangkat Pustakawan yang ramah dan murah senyum srta cinta baca-cinta buku.
- mengadakan inovasi dan kreasi dalam kegiatan yang ada kaitannya dengan buku dan membaca. Misalnya, pemutaran film dokumenter, lomba mengarang:cerpen, puisi, resensi, sinopsis, membentuk sekolah menulis, diskusi buku, simakan buku, dan seterusnya.
- Menjadikan perpustakaan sebagai sentra pembelajaran.
- Memberikan penghargaan pada pecinta baca-pecinta buku.
2. Saran-saran
- Bagi pengelola pendidikan hendaknya mengupayakan tersedianya perpustakaan yang representatif, mencintai para pecinta buku, dan mempunyai perhatian yang besar terhadap buku.
- Kepada semua pihak, hendaknya mengupayakan terciptanya Masyarakat cinta baca-cinta buku (bibliophile).
- Jadilah pembaca yang rakus. Jadilah orang yang Cinta Buku-Cinta Baca, sebab itulah Cinta Sejati.
DAFTARA PUSTAKA
Ali, Mohammad Hisyam. "Keluarga Buku". Jawa Pos, 27 Januari 2008.
Anshori, Husni. "Membaca Itu Bikin Awet Muda" dalam Jawa Pos, 02 Juli 2006.
Arsyad, Azhar. 2000. Media Pengajaran. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Djajuliyanto. 1992. Pedoman Penyelenggaraan dan Penyusunan Tajuk Subjek untuk Perpustakaan. Jakarta: Muara Agung.
Hisyam, Mohammad Ali. "Perpustakaan Rumah Baca". Jawa Pos, 30 April 2006.
Joesoef, Daoed. "Budaya Baca". dalam St. Sularto dkk. (ed.). 2004. Bukuku Kakiku. Jakarta: Gramedia.
Khotib, Ahmad. "Membangun Perpustakaan Representatif: Dari Taman Baca Siswa Sampai Lahirnya Reading Society".Makalah, tidak diterbitkan.
M. Faizi, "Emang Sekolah Anda Punya Perpustakaan?". Jawa Pos, 02 Desember 2007.
Perangin Angin, Minda. "Berdialog dengan Buku" dalam St. Sularto dkk. (ed.). 2004. Bukuku Kakiku. Jakarta: Gramedia.
Pitono, Djoko. "Kisah Buku dalam Angka di Taman Surga" dalam Jawa Pos, 24 September 2009.
Rizal, Syaiful. "Minat Baca Siswa dan Perpustakaan Sekolah". Jurnal Edukasi No.03 Tahun 2005.
Rosidi, Ajip. 1983. Pembinaan Minat Baca, Bahasa dan Sastra. Surabaya: Bina Ilmu.
UU No. 43 Tahun 2007.
"Fasilitas Sekolah Masih Buruk". Kompas, 29 Mei 2009.
[1] Dikutip dari tulisan Daoed Joesoef, "Budaya Baca", dalam St. Sularto dkk. (ed.), Bukuku Kakiku, (Jakarta: Gramedia, 2004), hal. 88.
[2] Husni Anshori, "Membaca Itu Bikin Awet Muda" dalam Jawa Pos, 02 Juli 2006
[3] Mengenai rendahnya minat baca, salah satu indikatornya bisa dilihat dari jumlah penerbitan buku di Indonesia. Ajip Rosidi, Sastrawan terkemuka Indonesia, menuturkan bahwa penerbitan buku di negeri kita saat ini sekitar 12.000 judul, dengan oplah hanya 2.000-3.000 per judul. Sementara di sisi lain,jumlah penduduk Indonesia tak kurang dari 225 juta. Kalau dikalkulasi, dengan oplah dinaikkan menjadi 5.000, maka setiap tahun hanya ada 60 juta buku (12.000 x 5.000). dengan demikian, setiap orang hanya kebagian 60. 000.000 : 225.000.000= 0,27 buku. artinya, jika rata-rata buku Indonesia 100 halaman, setiap tahun orang Indonesia hanya membaca 27 halaman. Miris bukan? Lihat, Djoko Pitono, "Kisah Buku dalam Angka di Taman Surga" dalam Jawa Pos, 24 September 2009.
[4] Djajuliyanto, Pedoman Penyelenggaraan dan Penyusunan Tajuk Subjek untuk Perpustakaan, (Jakarta: Muara Agung, 1992), hal. 33 & 63.
[5] Syaiful Rizal, "Minat Baca Siswa dan Perpustakaan Sekolah". (Jurnal Edukasi No.03 Tahun 2005), hal. 25
[6] Azhar Arsyad,. Media Pengajaran, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2000), hal. :99
[7] Ajip Rosidi, Pembinaan Minat Baca, Bahasa dan Sastra, (Surabaya: Bina Ilmu, 1983), hlm. 68
[8] Minda Perangin Angin, "Berdialog dengan Buku" dalam St. Sularto dkk. (ed.), Bukuku Kakiku, (Jakarta: Gramedia, 2004), hal.
[9] Baca, Ahmad Khotib, Membangun Perpustakaan Representatif: Dari Taman Baca Siswa Sampai Lahirnya Reading Society, tidak diterbitkan, hal. 9
[10] Mohammad Ali Hisyam, "Keluarga Buku", Jawa Pos, 27 Januari 2008.
[11] Untuk lebih mendalami tentang pengalaman para ilmuwan-intelektual di negeri ini dalam hubungannya dengan buku, tuntaskan pada St. Sularto dkk. (ed.), Bukuku Kakiku, (Jakarta: Gramedia, 2004).
[12] Hal ini berbeda jauh dengan negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS). Sebagaimana yang dikisahkan oleh Minda Perangin Angin, buku di sana mudah didapat. Second-hand book store ada di setiap desa, harganya pun sangat murah. Tuntaskan pada Minda Perangin Angin, Op. Cit, hal. 185.
[13] "Fasilitas Sekolah Masih Buruk", Kompas, 29 mei 2009.
[14] Mohammad Ali Hisyam pernah menggambarkan tentang kondisi penjaga perpustakaan yang tidak ramah tersebut. Ia menulis: "Tak ubahnya polisi yang mengatur lalu lintas buku, penjaga kerapkali berlagak layaknya pengintai yang bertugas meringkus maling ketimbang pelayan yang dengan santun dan terbuka memuaskan dahaga para pengunjung". Baca, Mohammad Ali Hisyam "Perpustakaan Rumah Baca", Jawa Pos, 30 April 2006.
[15] M. Faizi, "Emang Sekolah Anda Punya Perpustakaan?", Jawa Pos, 02 Desember 2007.
[16] Lihat UU No. 43 Tahun 2007 pasal 3.
[17] Ahmad Khotib, Op. Cit., hal. 12
IDENTITAS PENULIS
Nama : PAISUN
Alamat : Jl. Makam Pahlawan PP. Annuqayah Daerah Lubangsa Selatan Blok C/ 01 Guluk-guluk Sumenep Madura 69463
, artikel lomba, artikel perpustakaan, lomba, lomba perpustakaan, lomba tulis artikel, perpus, pustakawan, teratama
Loading...
Anda sedang membaca Menuju Terciptanya Masyarakat Bibliophile; Memulai dari Perpustakaan Sekolah kategori Perpustakaan.
Silahkan beri komentar, baik berupa Kritik, Saran, maupun Pertanyaan.
Semoga bermanfaat.