RETHINKING PERAN PERPUSTAKAAN DI ERA GLOBALISASI: Antara digital dan konvensional
Senin, 24 Mei 2010 02:41:02
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
Perpustakaan. Pendahuluan
Perpustakaan di era modern seperti sekarang ini bukan lagi hanya sekedar tempat buku yang dijaga oleh petugas yang berkaca mata tebal yang dengan setia menjaga buku dan memberikan peluang kepada siapa saja yang meminjam buku. Setelah ribuan tahun hidup dengan teknologi cetak, ratusan tahun dengan teknologi analog, kelahiran dan perkembangan pesat teknologi digital menimbulkan revolusi mendasar dalam kehidupan manusia, khususnya bagi kalangan pustakawan. Artinya pustakawan sesungguhnya berperan besar dalam memberikan sumbangan dalam perkembangan peradaban. Tetapi tidak kelihatan perannya. Masalahnya, ketika orang melihat perpustakaan, seolah-olah pustakawan terhalang oleh deretan koleksi yang semakin hari semakin menua dan semakin menjauhi unsur kekiniannya.
Kata perpustakaan atau library merujuk pada suatu medium peradaban manusia, yaitu buku. Untuk waktu yang sangat lama, buku menjadi sumber daya pengetahuan yang utama, yang dihimpun oleh perpustakaan. Hal ini terjadi karena posisi perpustakaan dianggap hanya sebagai tempat penyimpanan saja, dan ternyata hingga kini anggapan yang demikianpun masih belum bisa dihilangkan.
Permasalahan
Tradisi sekitar buku dan jurnal tercetak yang menjadi kekuatan perpustakaan, sejak lama tertanam dalam budaya masyarakat hingga membentuk sebuah "dunia teks" yang melandasi semua upaya manusia memperluas ilmu pengetahuannya. Artinya, buku yang berisi teks-teks ini menjadi rujukan utama para pecinta ilmu pengetahuan untuk mengembangkan pengetahuannya dan sekaligus menuangkannya. Seolah-olah tidak ada pilihan lain yang bisa menstimulasi perubahan kecuali tulisan.
Beberapa dasawarsa terakhir ini dunia teks mendapat tantangan dari temuan temuan teknologi baru. Seiring dengan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) perpustakaan pun dituntut untuk mampu beradaptasi dengan hal tersebut. Perpustakaan pada era ini benar-benar dipilih sebagai salah satu pelaku perubahan (agent of change). Dikatakan demikian karena perpustakaan merupakan tempat dimana berbagai informasi tersimpan di dalamnya dan di sini pula sesungguhnya embrio intelektual diciptakan.
Betapa tidak, dahulu perpustakaan yang dianggap sebagai tempat buku saja, kini berkembang menjadi pusat sumber daya informasi artinya, perpustakaan tidak lagi sebagai penyimpan buku semata, melainkan menjadi tempat yang mampu menciptakan nilai tambah bagi pemustaka, yang bermanfaat bagi orang lain. Perkembangan yang tampak sekarang adalah mulai digalakkannya perpustakaan digital yang pada umumnya koleksi yang dimiliki berupa informasi yang terekam dalam bentuk digital, dan memerlukan alat akses yang dikenal dengan nama komputer. Berbondong-bondong perpustakaan di berbagai belahan bumi ini mengemas ulang maupun mengembangkan koleksinya dalam bentuk digital. Pertanyaannya adalah apakah dengan hal tersebut perpustakaan harus meninggalkan koleksi maupun sistem konvensionalnya? atau, apakah perpustakaan akan mendewakan digital sebagai media informasi yang dimilikinya?
Jika jawabannya "ya", nampaknya dari sini muncul suatu permasalahan, yaitu berupa kekecewaan yang tidak ubahnya seperti mendaki "puncak gunung" yang berada di depan mata. artinya akan ada suatu pekerjaan yang luar biasa beratnya jika hal ini akan direalisasikan, atau akan menjadi suatu pekerjaan yang paradoks, dan mungkin menjadi suatu giant projects, proyek raksasa yang menuntut penyelesaian cepat, sedangkan SDM dan infrastruktur tidak cukup.
Khusus di Indonesia, pemustaka yang memiliki pengetahuan digital masih lebih sedikit dibanding yang tidak mengerti. Masyarakat melek teknologi belum mewakili dari jumlah masyarakat yang gagap teknologi. Ini artinya harus ada kebijakan yang mengakomodir kepentingan dan kondisi pemustaka yang beraneka ragam kemampuannya ini. Lantas bagaimana idealnya suatu perpustakaan itu?
Tujuan
Penulisan ini memiliki tujuan mengembangkan wacana terbentuknya perpustakaan ideal sebagai sikap untuk beradaptasi di tengah maraknya perpustakaan digital.
Landasan teori
Perubahan demi perubahan yang terjadi dari suatu zaman ke zaman telah mengantarkan perpustakaan memasuki era digital, suatu era yang menimbulkan pertanyaan: ‘apakah kita ini hidup di masa kini atau masa akan datang?" pertanyaan ini timbul karena hampir segala sesuatu yang semula tidak terbayangkan akan terjadi pada saat ini, secara tiba-tiba muncul dihadapan kita. Sejenak coba kita tengok masa lalu. Untuk mengetahui apa yang terjadi di negara lain, kita membutuhkan waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Contoh lain, ketika kita mengakses informasi tertentu dari perpustakaan yang sistem temu kembali informasinya (katalog, indeks) masih menggunakan sistem manual, kita harus pergi ke perpustakaan tersebut dan membuka-buka lemari katalog dan menyisir katalog yang memuat informasi yang kita butuhkan. Proses ini tentu membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Sekarang, mengakses informasi ini cukup duduk di depan komputer, membuka internet dan alamat-alamat websitenya, dalam hitungan menit bahkan detik, informasi dari belahan dunia manapun dapat dengan mudah kita dapatkan. Masa depan seolah-olah dipercepat keberadaanya berkat kemajuan teknologi inrormasi. Kuncinya ternyata adalah ICT (Information and Communcation Technology) yang telah diakui dunia sebagai satu sarana dan prasarana utama untuk mengatasi masalah informasi yang terkendala ruang dan waktu.
Perpustakaan digital
Perpustakaan perlahan namun pasti telah mulai beranjak dari sistem konvensional menuju sistem digital. Jika pada era globalisasi ini perpustakaan tidak mengikuti tuntutan perkembangan ini, tentu nilai tawar perpustakaan bagi pemustaka akan berkurang, bahkan tidak menutup kemungkinan pada suatu ketika perpustakaan harus siap ditinggalkan pemustakanya. Kondisi seperti ini tentu patut untuk dicermati, terlebih lagi saat ini mulai marak muncul digital library yang sebagian besar koleksinya berupa e-journal, e-book, dan sejenisnya, seperti yang dikatakan oleh Brogman (2003,85) bahwa if national and global information infrastructures are to serve "every citizen", then digital libraries should be reasonably easy to understand and to use. Bahwa seandainya infrastruktur informasi global melayani semua warga negara, maka perpustakaan digital idealnya menjadi pilihan karena ia mudah dimengerti dan digunakan. Dengan kata lain perpustakaan digital adalah perpustakaan yang mampu melayani pemustaka dengan segala kemudahannya.
Brogman (2003,87) menambahkan bahwa sebuah perpustakaan digital adalah suatu sistem yang menyediakan suatu komunitas pemustaka dengan akses terpadu yang memberikan akses yang luas terhadap informasi dan ilmu pengetahuan yang telah tersimpan, terorganisasi dengan baik.
Ada pula pendapat yang kontras mengenai topik ini, seperti yang dikemukakan oleh Marilya (2002,20) bahwa perpustakaan digital adalah organisasi yang menyediakan berbagai sumber informasi yang mencakup staf ahli, untuk memilih, menyusun, menyediakan akses karya ilmiah agar diinterpretasikan, didistribusikan, dipelihara secara terintegrasi dari waktu ke waktu sedemikan rupa sehingga selalu tersedia dan siap dimanfaatkan oleh komunitas pemustaka.
Perpustakaan Hibrida
Sebelum konsep perpustakaan digital mengkristal dan popular seperti sekarang ini, ada beberapa pemikiran tentang perkembangan perpustakaan digital yang lebih evolutif dan memberikan perhatian yang lebih banyak kepada peran penting "perpustakaan biasa". Pemikiran tersebut terangkum dalam konsep tentang perpustakaan hibrida (hybrid library). Konsep ini sempat menjadi tumpuan bagi para praktisi untuk lebih sadar tentang kesulitan yang dialami jika mendirikan perpustakaan digital sebagai sesuatu yang baru sama sama sekali. Konsep ini sebagai suatu kesatuan antara lingkungan fisik dan lingkungan elektronik yang dikelola oleh institusi perpustakaan biasa.
Chowdhury (2003,6) memberikan pandangannya tentang perpustakaan hibrida ini, yaitu hybrid library has been defined as a library where digital and printed information resources co-exist and are brought together in an integrated information service accessible locally as well as remotely. Dikatannya bahwa perpustakaan hibrida diartikan sebagai suatu perpustakaan yang menjadi sumber informasi baik yang tercetak maupun digital yang dapat diakses melalui jarak dekat maupun jarak jauh.
Negara yang paling aktif melakukan penelitian dan pengembangan konsep perpustakaan hibrida ini adalah Inggris. Menurut Pendit (2007,34), Inggris menyelenggarakan lima proyek perpustakaan hibrida, masing-masing diberi nama Builder, Agora, Malibu, Headline, dan Hylife. Pada perpustakaan hibrida ini ada kolaborasi yang harmonis antara pustakawan dan teknolog yang menyatukan keterpisahan tradisi sebagai konsekuensi perpustakaan yang secara bersama-sama membangun koleksi baru, yaitu koleksi dalam bentuk digital sekaligus mempertahankan koleksi lama, yaitu koleksi yang berupa informasi-informasi tercetak.
Perbedaan perpustakaan digital dengan perpustakaan hibrida
Perpustakaan dalam dasawarsa terakhir ini telah berubah paradigmanya, dari yang sekedar tempat atau ruangan tempat buku, kini menjadi pusat sunber daya ilmu pengetahuan yang dapat diakses oleh semua pemustaka. Artinya perpustakaan sekarang diposisikan sebagai tempatnya berbagai informasi ilmiah yang dapat memberikan wawasan kepada pemustaka untuk kemudian dapat dijadikan bahan bagi pemustaka untuk melahirkan informasi sebagai wawasan yang benar-benar baru.
Jika perpustakaan digital sepenuhnya tidak memiliki koleksi tercetak sehingga cakupan informasi terbatas pada koleksi yang digitalkan, maka perpustakaan hibrida memiliki koleksi tercetak yang permanen dan setara dengan koleksi elektronik atau digitalnya. Perpustakaan hibrida senantiasa mempertahankan koleksi tercetak bukan menggantikan semuanya dengan koleksi elektronik atau digital, dan memperluas konsep dan cakupan jasa informasi sehingga penambahan koleksi eleketronik dan digital serta penggunaan teknologi komputer tidak dipisahkan dari jasa berbasis koleksi tercetak.
Pembahasan
Bahan pustaka digital atau koleksi elektronik diakui dapat menyajikan informasi yang lebih cepat dan akurat. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa ketika membaca teks elektronik, kejenuhan akan lebih cepat dirasakan. Selain itu membaca teks elektronik membutuhkan energi yang lebih besar dibanding dengan membaca buku. Dikatakan lebih mudah jenuh karena mata harus melawan cahaya dari layar monitor dan melihat teks yang ditampilkannya, sehingga mata dipaksa harus bekerja keras untuk melihat dan otak dikondisikan dengan mengeluarkan energi tambahan untuk memahaminya. Sebaliknya jika buku teks (konvensional) yang dibaca, mata akan lebih rileks, dan posisi badan bisa diatur sekehenndak pembaca. Buku lebih portable, dapat dibaca dengan bersantai, misalnya sambil duduk santai bahkan sambil berbaring.
Di era globalisasi ini tugas perpustakaan lebih lanjut adalah mengakomodasi kepentingan-kepentingan dan kemanfaatan tersebut. Sesungguhnya sejak tahun 1931, Shiyali Ramamrita Ranganatan (1892-1972), seorang pustakawan senior India memberikan pandangan bahwa perpustakaan ini memiliki prinsip yaitu: pertama, books are for use. Artinya bahwa buku adalah sesuatu yang harus dimaksimalkan pemanfaatanya di perpustakaan; Kedua, Every reader his book. Artinya bahwa perpustakaan harus mengerti kebutuhan pemustaka dengan menyediakan koleksi yang menarik minat pemustaka untuk mengakses informasi di dalamnya. Ketiga, Every books its reader. Artinya bahwa perpustakaan harus mengetahui tentang dunia buku dan menemukan manfaat eksistensi suatu buku. Sehingga pustakawan akan mengetahui pula siapa saja yang memperoleh manfaat dari tersajinya sebuah buku; Keempat, Save the time of the reader. Artinya bahwa apapun jenis dan bentuk perpustakaan, pemustaka adalah fokus utamanya, karena nafas perpustakaan adalah pemustaka. Perpustakaan terlihat baik apabila pemustaka yang menggunakan perpustakaan merasa nyaman dan meraskan nilai manfaat dengan adanya perpustakaan; dan perinsip kelima adalah A library is a growing organism. Artinya bahwa pepustakaan merupakan organisasi yang berkembang, koleksi yang dimiliki perpustakaan harus senantiasa berkembang baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Kuantitas berarti jumlah yang selalu meningkat, sedangkan kualitas berarti informasi yang mutakhir (up to date) dan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pemustaka.
Boleh saja perpustakaan mendewakan digital sebagai koleksi yang dimilikinya sekarang tetapi yang lebih penting adalah perhatian perpustakaan terhadap pemustaka. Dengan demikian perpaduan keduanya nampaknya menjadi solusi yang baik untuk terciptanya perpustakaan ideal dalam hal penyajian informasi, khususnya di Indonesia. Perpustakaan tetap harus mempertahankan koleksi konvensional meskipun sudah dikonveri dalam bentuk digital. Sehingga pemustaka dapat menentukan pilihan yang paling nyaman.
KESIMPULAN DAN SARAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut perpustakaan untuk mampu beradaptasi sehingga tetap terjaga eksistensinya. pengembangan perpustakaan harus pula memperhatikan kondisi pemustakanya. Khususnya di Indonesia, tidak sedikit pemustaka yang masih mempertahankan koleksi konvensionalnya, sebab pada dasarnya tidak seluruh karakter koleksi konvensional ini dapat tergantikan oleh digitalisasi.
Berdasarkan pemikiran-pemikiran di atas, dapat disampaikan saran diantaranya pertama, agar perpustakaan yang ingin tetap serius melayani pemustakanya harus berinisiatif menyediakan akses kedua jenis koleksi mereka, sekaligus menciptakan lingkungan baru yang mungkin berbeda sama sekali dengan lingkungan informasi sebelumnya yang hanya berbasis koleksi tercetak. Kedua, adalah tugas pustakawan untuk mengambil langkah sedemikian rupa. sehingga para pemustaka tetap betah menggunakan jasa mereka sesuai dengan kebutuhannya.
DAFTAR REFERENSI
Brogman, Christine L (2003). Designing digital libraries for usability in digital library use. Massachusets: The MIT Press.
Chowdhury, GG and Chowdhury, Sudatta (2003). Introduction to digital libraries. London: Facet Publishing.
Marilya and Simon Tanner (2002). Digital futures: Strategy for information age. London: Library Association.
Pendit, Putu Laxman (2007). Perpustakaan digital: Perspektif perpustakaan perguruan tinggi Indonesia. Jakarta: Sagung Seto.
BIODATA PENULIS
Nama : Wiji Suwarno
Alamat : Perum Yudistira A-9, RT.05,RW.08, Dukuh, Kota Salatiga
Pekerjaan : Staff Perpustakaan STAIN Salatiga
, artikel lomba, artikel perpustakaan, lomba, lomba perpustakaan, lomba tulis artikel, perpus, pustakawan, teratama
Loading...
Anda sedang membaca RETHINKING PERAN PERPUSTAKAAN DI ERA GLOBALISASI: Antara digital dan konvensional kategori Perpustakaan.
Silahkan beri komentar, baik berupa Kritik, Saran, maupun Pertanyaan.
Semoga bermanfaat.