Pariwisata. MENJELANG masa liburan tiba banyak orang ingin
berwisata. Rasanya wisata alam akan memberikan sensasi yang lebih
menyentuh nurani daripada wisata modern. Ada tempat yang cukup
mengesankan untuk mengisi hari libur, khususnya bagi remaja Purbalingga,
tempat yang sejuk, teduh, dan berlatar belakang air.
Ada tempat
yang memiliki keunikan masing-masing dan berada pada satu jalur. Semua
masih berada di wilayah Desa Cipaku, Kecamatan Mrebet, Purbalingga.
Curug Nini
Kini
air terjun nan sejuk ini disebut dengan sebutan yang keliru Curug Mini,
menurut penduduk Cipaku, yang benar adalah “Curug Nini”. Air terjun
pada sebuah kolam yang cukup luas, ada mata air besar di dasar tebing,
sehingga kolam ini belum pernah kering. Tinggi air terjun hanya sekitar
10 meter, bagian dari hulu sungai Pingen. Air dibendung untuk irigasi.
Berada di perbatasan Desa Pagerandong dan Desa Cipaku. Dapat ditempuh
dari dua arah.
Namun untuk kelancaran wisata selanjutnya
sebaiknya ke Curug Nini lewat Pasar Karangnangka ke arah barat, sekitar
tiga kilometer. Jika telah sampai di Balai Desa Cipaku, ada dua obyek
yang cukup berdekatan. Lewat jalan tanah, kalau ke kanan, berarti ke
Curug Nini, hanya sekitar 200 meter. Kolam Curug Nini dikelilingi banyak
pohon pandan, dan di apit oleh bukit-bukit yang berpohon rindang. Tiap
bukit terdapat jalan setapak yang berliku-liku. Pengunjung dapat
bercengkerama di tengah dan di tepian sungai yang permukaannya kering.
Bagi anak-anak bisa bermain air yang sejuk dan bening. Anak desa biasa
terjun dari tebing curug ke kolam utama.
Batu Lingga dan Yoni
Dari
sekitar Balai Desa Cipaku tadi kalau ke kiri berarti ke selatan, lewat
jalan desa dapat mengunjungi situs sejarah. Di dukuh Bataputih ini
terdapat dua buah Batu Lingga dan Yoni. Batunya bulat lonjong bagai
telur. Situs ini berada di atas sebuah kolam penampungan air, masyarakat
setempat menyebutnya Telaga Bataputih. Mata-airnya cukup besar. Jernih
dan sejuk. Di samping situs ada dua buah pohon besar. Pohon yang satu
karena usianya sampai berlubang, mirip pintu, dan dapat dimasuki orang
dewasa.
Telaga Bolangirit
Dari situs Lingga
dan Yoni, dapat melanjutkan ke Dusun Pengebonan hanya sekitar satu
kilometer. Teruslah ke arah barat, belok kiri, lalu ke arah barat lagi,
ada sebuah telaga. Diberi nama Telaga Bolangirit. Telaga ini di jaman
dahulu tentu sangat layak untuk tempat mandi para putri kerajaan,
minimal putri-putri padepokan setempat. Airnya bening dan melimpah. Di
sebelah utara dihiasi dengan beberapa pohan beringin yang besar-besar.
Inilah wajah khas sebuah kolam air di pegunungan.
Curug Singongah
Hanya
dua ratus meter dari Telaga Bolangirit, terdapat sebuah air terjun yang
cukup tinggi, bagian dari Sungai Lembarang. Masyarakat setempat
menyebutnya Curug Singongah. Curug ini dikelilingi tebing dengan tanaman
liar yang seperti ditata rapi. Ada tiga air terjun, di tengah sungai,
kiri, dan kanan. Anak desa cenderung bermain dari tebing sebelah kiri
terjun ke kolam yang luas. Untuk menuju ke pusat curug pengunjung harus
melalui jalan setapak di tebing sungai. Curug Singongah dapat ditempuh
dari dua arah. Yang pertama dari Telaga Bolangirit, Dusun Pengebonan.
Dan yang kedua dari Desa Bumisari.
Bagi remaja menuju Curug
Singongah adalah hal yang mengasyikkan. Jalannya masih cukup sulit,
benar-benar jalan setapak di tebing sungai dan cukup curam, cenderung
berair karena di dinding tebing banyak keluar mata air. Mengesankan!
Hindari berkunjung di saat hari mendung. Atau bertanyalah kepada
penduduk setempat. Sebab situasi curug sangat rawan, jika sungai di atas
kebetulan banjir, tidak tampak dari pusat curug. Mirip situasi di Curug
Ceheng, Sumbang, Banyumas. Air di sekitar Curug Singongah benar-benar
melimpah, bagi yang suka kecehan, di curug ini bisa terpuaskan.
Watulis
Hanya
dua ratus meter dari Telaga Bolangirit ke arah barat ada sebuah
prasasti tulis berhuruf Jawa Kuno. Watulis. Sebuah peninggalan sejarah,
sebuah prasasti, batunya sebesar gajah gemuk. Bagi pelajar dan guru
sejarah -syukur dengan membawa para siswanya, kiranya sangat layak
mengunjungi tempat ini. Sudah bertahun-tahun tulisan di Watutulis ini
belum terterjemahkan. Namun tahun 1983, Drs. Kusen dari Fakultas Sastra
UGM Jurusan Arkeologi, berhasil membaca tulisan di Watutulis. Bunyinya
“Indra Wardana Wikrama Deva”. Menurut dugaannya, kalimat ini adalah nama
seorang raja jaman dahulu yang kekuasaannya sampai di wilayah
Watutulis, Dusun Pengebonan. Namun siapa raja ini dan dari negeri mana,
ternyata belum dapat dipastikan. Prasasti batu ini konon mengandung daya
magnet yang paling kuat se Nusantara. Jarum kompas petunjuk arah jika
didekatkan ke Watutulis bisa membalik arahnya 180 derajat. Kemungkinan
batu ini berasal dari pecahan meteor.
Visitors | : 477047 Org |
Hits | : 1487408 hits |
Month | : 6272 Users |
Today | : 464 Users |
Online | : 10 Users |
Stat. Web | : Klik |